Table of Contents
ToggleMengirim barang pecah belah dari China membutuhkan perhatian lebih pada proses pengemasan. Produk seperti gelas, keramik, cermin, lampu kaca, vas, hingga sanitary ware lebih rentan rusak karena harus melewati beberapa tahap pemindahan sebelum sampai ke Indonesia.
Selama perjalanan, barang dapat mengalami getaran, benturan, tekanan dari kemasan lain, hingga perubahan posisi saat proses bongkar muat. Karena itu, penting untuk memperhatikan pengemasan yang tepat untuk menjaga kondisi barang tetap aman.
Lalu kemasan seperti apa yang aman untuk barang pecah belah? Lebih aman menggunakan bubble wrap, peti kayu, atau pallet?
Jenis Packaging untuk Barang Pecah Belah
Setiap jenis packaging memiliki fungsi yang berbeda. Karena itu, pemilihannya perlu menyesuaikan bentuk, ukuran, berat, dan tingkat kerapuhan barang.
Bubble Wrap
Bubble wrap digunakan untuk melindungi permukaan barang dari benturan ringan, gesekan, dan goresan. Packaging ini cocok untuk gelas, mug, botol kaca, ornamen, atau produk kecil yang mudah pecah. Biasanya bubble wrap dipasang langsung pada setiap unit barang sebelum dimasukkan ke dalam kardus.
Lapisan ini tidak menciptakan struktur luar yang kuat. Jika karton menerima tekanan berat dari luar atau tertindih barang lain, bubble wrap saja belum tentu mampu mempertahankan bentuk kemasan.
Karena itu, untuk perjalanan internasional, gunakan bubble wrap sebagai pelindung produk di bagian dalam, sebelum memasukkannya kedalam kardus. Jadi kardus bukan sebagai satu-satunya pengaman
Peti Kayu
Peti kayu memberikan perlindungan tambahan pada bagian luar kemasan. Packaging ini membantu mengurangi risiko kardus tertekan, penyok, atau terkena benturan saat proses pemindahan.Â
Fungsi ini penting untuk produk yang memiliki karakteristik seperti:
- mudah pecah ketika mendapat tekanan;
- memiliki permukaan kaca yang luas;
- bentuknya sulit dilindungi dengan kardus biasa;
- bobotnya cukup berat;
- bernilai tinggi;
- membutuhkan kestabilan lebih besar saat dipindahkan.
Bubble wrap dapat memperkuat perlindungan di bagian dalam, tetapi tidak menggantikan kebutuhan peti kayu untuk barang fragile.
Pallet
Pallet digunakan untuk menyusun beberapa kardus atau peti menjadi satu kelompok yang lebih stabil.
Penggunaan pallet memudahkan proses pemindahan dengan forklift dan membantu menjaga susunan barang agar tidak mudah bergeser. Untuk kiriman barang pecah belah dengan jumlah lebih dari 20 kardus, pallet dapat dipertimbangkan agar proses handling lebih teratur.
Namun, pallet tidak otomatis membuat isi karton tahan benturan.
Jika produk di dalam box tidak memiliki perlindungan yang cukup, menaruh kardus tersebut di atas pallet tidak akan menyelesaikan masalah.
Karena itu, pallet lebih tepat berfungsi sebagai stabilisasi dan pengelompokan kiriman, bukan sebagai pengganti packing fragile.
Gunakan Kombinasi Packaging
Untuk barang pecah belah, sebaiknya jangan hanya mengandalkan satu jenis packaging.
Bubble wrap atau foam dapat melindungi produk secara langsung, kardus menjaga susunan barang, sedangkan peti kayu memperkuat perlindungan dari luar. Jika jumlah kiriman lebih dari 20 kardus, pallet dapat ditambahkan untuk menjaga kestabilan saat proses pemindahan.
Dengan kombinasi tersebut, setiap lapisan memiliki fungsi yang jelas dan saling melengkapi. Pendekatan ini lebih aman untuk barang fragile selama proses import dari China, terutama ketika barang harus melewati beberapa tahap handling sebelum sampai ke Indonesia.
Kenapa Barang Pecah Belah Membutuhkan Packing Berbeda?
Risiko barang pecah tidak hanya muncul ketika kardus jatuh.
Selama proses import dari China, barang dapat mengalami beberapa kali pemindahan. Paket bergerak dari supplier menuju gudang, kemudian masuk ke proses konsolidasi, pemuatan, perjalanan internasional, bongkar muat, hingga pengiriman lanjutan di Indonesia.
Pada setiap tahap tersebut, barang dapat menghadapi tekanan yang berbeda.
Karton bisa bergeser, menerima tekanan dari barang lain, mengalami getaran, atau terkena benturan ketika dipindahkan. Bahkan kemasan luar yang masih terlihat utuh belum tentu menjamin produk di dalamnya tidak retak.
Oleh sebab itu, perlindungan barang pecah belah perlu mempertimbangkan tiga hal sekaligus:
- perlindungan setiap produk di dalam karton;
- kekuatan kemasan luar;
- kestabilan barang selama proses pemindahan.
Dari sinilah fungsi bubble wrap, peti kayu, dan pallet mulai terlihat berbeda.
Barang Kecil Belum Tentu Cukup dengan Bubble Wrap
Ukuran produk sering menimbulkan kesan bahwa packing sederhana sudah cukup.
Misalnya, satu gelas hanya berukuran kecil dan ringan. Namun, apabila Anda mengimpor 500 gelas sekaligus, cara supplier menyusun seluruh unit menjadi jauh lebih penting.
Jika setiap gelas sudah mendapat bubble wrap tetapi supplier menempatkannya terlalu longgar di dalam karton, produk tetap dapat bergerak selama perjalanan.
Sebaliknya, jika susunan terlalu padat tanpa peredam yang sesuai, tekanan antara produk juga dapat memicu retak.
Karena itu, perhatikan bukan hanya lapisan bubble wrap, tetapi juga:
- jarak antarbarang;
- keberadaan sekat;
- kekuatan inner box;
- ruang kosong di dalam karton;
- ketahanan outer carton.
Packing yang baik membatasi pergerakan produk tanpa memberikan tekanan berlebihan.
Jangan Hanya Melihat Bagian Luar Kardus
Salah satu kesalahan dalam menilai packing ialah menganggap kardus tebal berarti barang sudah aman. Padahal, kerusakan sering bermula dari bagian dalam.
Misalnya, dua vas berada dalam satu box besar. Kardus luarnya terlihat kuat, tetapi supplier tidak memberikan pemisah di antara kedua vas tersebut.
Ketika kardus bergetar, kedua barang dapat saling berbenturan meskipun kemasan luarnya tidak penyok.
Karena itu, sebelum barang meninggalkan supplier, mintalah informasi tentang susunan bagian dalam, bukan hanya foto kardus yang sudah tertutup.
Untuk produk fragile dengan nilai tinggi atau jumlah besar, foto sebelum karton ditutup dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kualitas packing.
Kapan Barang Pecah Belah Perlu Menggunakan Pallet?
Pallet mulai relevan ketika jumlah karton cukup banyak atau karakter barang membutuhkan penataan yang lebih stabil.
Misalnya, Anda mengimpor puluhan kardus berisi keramik dengan ukuran seragam. Menyatukan karton dalam kelompok yang rapi dapat mengurangi perpindahan satu per satu selama handling.
Namun, penggunaan pallet juga perlu mempertimbangkan konsekuensi logistik.
Pallet menambah dimensi dan bobot kiriman. Artinya, penggunaan pallet dapat memengaruhi volume akhir yang menjadi dasar perhitungan pengiriman.
Karena itu, jangan meminta pallet hanya karena terlihat lebih aman.
Pertimbangkan:
- jumlah karton;
- berat keseluruhan;
- ukuran setiap box;
- karakter produk;
- metode pemindahan barang;
- efisiensi volume setelah paletisasi.
Dalam beberapa kasus, peti kayu sudah memberikan perlindungan yang diperlukan. Pada kondisi lain, pallet membantu mengelola banyak unit secara lebih stabil.
Hindari Menekan Supplier untuk Mengurangi Packing demi Mengejar CBM
Ketika melihat ukuran packing cukup besar, importir terkadang meminta supplier mengecilkan kemasan agar biaya kirim turun.
Strategi ini perlu dilakukan dengan hati-hati.
Memang, kemasan yang terlalu besar dapat meningkatkan volume. Namun, mengurangi foam, sekat, atau ruang perlindungan secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kerusakan.
Penghematan ongkir menjadi tidak berarti jika beberapa produk pecah ketika sampai.
Lebih baik meminta supplier mengoptimalkan packing, bukan sekadar mengecilkannya.
Misalnya, supplier dapat memperbaiki susunan produk, memilih ukuran outer carton yang lebih sesuai, atau mengurangi ruang kosong yang tidak memberikan fungsi perlindungan.
Dengan cara tersebut, Anda tetap mengejar efisiensi tanpa mengorbankan keamanan barang.
Lakukan Pengecekan Packing Sebelum Barang Berangkat dari China
Masalah packing lebih mudah diperbaiki ketika barang masih berada di China.
Karena itu, jangan menunggu sampai paket tiba di Indonesia untuk mengetahui bahwa supplier hanya menggunakan karton tipis atau tidak memberikan sekat yang cukup.
Sebelum barang melanjutkan perjalanan, periksa beberapa hal berikut:
- kondisi kemasan luar;
- jumlah koli;
- penggunaan peti kayu untuk barang pecah belah;
- perlindungan individual jika diperlukan;
- posisi barang di dalam kemasan;
- kebutuhan pallet untuk banyak karton;
- kondisi paket sebelum keberangkatan.
Dokumentasi foto atau video juga dapat membantu mengetahui kondisi barang pada tahap tersebut.
Jika Anda menemukan packing yang kurang sesuai, Anda masih memiliki kesempatan untuk menentukan langkah perlindungan tambahan sebelum barang melanjutkan perjalanan.
Dengan menyiapkan packing sejak barang masih berada di China, Anda dapat mengurangi risiko kerusakan sekaligus menghindari keputusan terburu-buru ketika barang sudah memasuki proses pengiriman.



