Table of Contents
ToggleBanyak orang ingin mulai import dari china, tetapi bingung harus mulai dari mana. Banyak orang sudah menemukan produk murah di 1688, Taobao, atau Alibaba. Namun, mereka masih bingung cara membayar supplier, menghitung ongkir, mengurus pajak, dan memastikan barang tiba dengan aman.
Kabar baiknya, proses import sekarang tidak harus rumit. Anda bisa memilih jalur mandiri jika sudah memahami dokumen dan regulasi, atau memakai bantuan jasa forwarder door to door agar proses pembelian, pengiriman, bea cukai, dan pengantaran ke alamat tujuan berjalan lebih praktis.
Apa Itu Import dari China?
Import dari China adalah proses membeli barang dari supplier atau marketplace China, lalu mengirimkannya ke Indonesia untuk kebutuhan pribadi maupun bisnis. Banyak reseller, UMKM, pemilik toko online, hingga distributor kecil memilih cara ini karena pilihan produknya sangat beragam dan harga grosirnya sering lebih kompetitif.
Barang yang umum dicari biasanya meliputi aksesoris gadget, fashion, perlengkapan rumah tangga, mainan, dekorasi, spare part, perlengkapan kantor, hingga produk viral yang sedang banyak diminati di marketplace lokal.
Secara umum, ada tiga cara import dari China. Pertama, import pribadi untuk kebutuhan sendiri. Kedua, import bisnis untuk stok jualan. Ketiga, import lewat forwarder. Forwarder membantu mengurus pembelian, pengiriman, pajak, bea cukai, hingga barang sampai ke alamat tujuan.
Bagi pemula, menggunakan forwarder sering menjadi pilihan praktis karena prosesnya lebih sederhana dan risiko teknis dapat diminimalkan.
Kenapa Banyak Pebisnis Memilih Import Barang dari China?
Banyak pebisnis memilih import dari China karena harga supplier di sana cenderung kompetitif, terutama untuk pembelian grosir. Dengan harga modal yang lebih rendah, pelaku usaha punya ruang lebih besar untuk mengatur margin, promo, dan strategi penjualan di marketplace lokal.
Selain harga, variasi produk juga menjadi alasan utama. China memiliki banyak pilihan barang, mulai dari fashion, aksesoris gadget, perlengkapan rumah tangga, mainan, dekorasi, spare part, hingga produk unik yang cepat mengikuti tren. Pebisnis bisa mencari produk melalui berbagai platform populer seperti 1688, Taobao, dan Alibaba sesuai kebutuhan, baik untuk pembelian kecil maupun skala besar.
Import barang dari China juga cocok untuk uji coba produk. Anda bisa membeli beberapa jenis barang terlebih dahulu. Setelah terlihat laku, barulah stok bisa ditambah. Namun, perhitungan tetap harus matang. Jangan hanya melihat harga barang yang murah, tetapi hitung juga ongkir lokal China, biaya pengiriman ke Indonesia, pajak, handling, dan biaya lain sampai barang benar-benar tiba. Dengan perhitungan yang tepat, peluang mendapatkan margin yang sehat akan jauh lebih besar.
Cara Import dari China untuk Pemula
Memulai import dari China sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan, asalkan Anda memahami urutannya sejak awal. Banyak pemula mengalami kendala karena langsung membeli barang tanpa menghitung biaya, memilih supplier tanpa verifikasi, atau belum paham jalur pengiriman yang paling sesuai.
Agar prosesnya lebih aman, Anda bisa mengikuti beberapa langkah berikut.
1. Pilih Produk yang Punya Permintaan Pasar
Langkah pertama dalam import dari China adalah memilih produk yang benar-benar punya potensi untuk dijual. Jangan hanya memilih barang karena harganya murah. Anda tetap perlu melihat apakah produk tersebut memiliki permintaan di pasar Indonesia.
Mulailah dengan mengecek tren di marketplace seperti Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, atau platform jual beli lain. Perhatikan produk yang sering muncul di halaman rekomendasi, jumlah penjualan, ulasan pembeli, dan harga kompetitor. Dari sana, Anda bisa menilai apakah produk tersebut layak dicoba atau tidak.
Untuk pemula, sebaiknya pilih barang yang mudah dijual, ukurannya tidak terlalu besar, dan tidak terlalu berat. Produk kecil seperti aksesoris gadget, perlengkapan rumah tangga, fashion accessories, dekorasi, atau produk viral biasanya lebih mudah diuji karena ongkirnya lebih terkendali.
Selain itu, hitung juga margin sejak awal. Jangan hanya melihat selisih harga beli dan harga jual. Anda perlu memperhitungkan biaya kirim, pajak, handling, dan biaya lain sampai barang tiba di Indonesia. Produk yang terlihat murah belum tentu menguntungkan kalau biaya pengirimannya terlalu tinggi.
2. Cari Supplier Terpercaya
Setelah menemukan produk yang cocok, langkah berikutnya adalah mencari supplier. Anda bisa mencari supplier melalui platform seperti 1688, Taobao, Alibaba, atau marketplace China lainnya. Setiap platform memiliki karakter yang berbeda, jadi sesuaikan dengan kebutuhan pembelian.
Saat memilih supplier, cek rating toko, jumlah transaksi, review pembeli, dan lama supplier tersebut berjualan. Supplier dengan reputasi baik biasanya memiliki respons yang lebih cepat, informasi produk yang jelas, serta riwayat transaksi yang lebih meyakinkan.
Jangan langsung percaya hanya dari foto katalog. Mintalah foto atau video real produk agar Anda bisa melihat kualitas barang secara lebih jelas. Untuk produk tertentu, Anda juga bisa menanyakan detail bahan, ukuran, warna, berat, jumlah per karton, dan jenis kemasan.
Untuk order pertama, mulai dari jumlah kecil terlebih dahulu. Cara ini membantu Anda menguji kualitas produk, kecepatan supplier, dan respons pasar di Indonesia tanpa harus mengeluarkan modal terlalu besar.
3. Hitung Semua Biaya Sebelum Membeli
Banyak pemula mengira biaya import hanya terdiri dari harga barang dan ongkir. Padahal, ada beberapa komponen biaya yang perlu Anda hitung sebelum membeli produk dari supplier China.
Biaya import tidak hanya harga barang. Anda juga perlu menghitung ongkir lokal China, biaya kirim ke Indonesia, pajak, bea masuk, biaya forwarder, handling, dan ongkir lokal di Indonesia. Semua biaya ini akan membentuk total modal atau landed cost.
Perhitungan ini penting karena menentukan apakah produk masih layak dijual atau tidak. Misalnya, harga barang dari supplier terlihat murah, tetapi ukuran barang besar dan volumenya tinggi. Akibatnya, biaya kirim menjadi mahal dan margin bisa menipis.
Sebelum melakukan pembayaran, minta estimasi biaya secara jelas. Dengan begitu, Anda bisa menghitung harga jual, target margin, dan strategi penjualan secara lebih realistis.
4. Lakukan Pembayaran ke Supplier
Setelah harga dan detail produk sudah cocok, Anda perlu melakukan pembayaran ke supplier. Beberapa supplier China biasanya menggunakan mata uang RMB, sementara sebagian lain bisa menerima pembayaran dalam USD, tergantung platform dan kesepakatan transaksi.
Untuk pemula, proses pembayaran ini sering menjadi tantangan karena tidak semua orang memiliki akses transfer internasional atau metode pembayaran yang sesuai. Selain itu, ada juga kendala bahasa dan risiko salah transfer saat bertransaksi langsung dengan supplier.
Agar lebih aman, Anda bisa menggunakan layanan bantuan pembayaran atau jasa transfer RMB. Layanan seperti ini membantu proses pembayaran ke supplier China, terutama saat Anda membeli dari platform yang menggunakan mata uang lokal China.
Sebelum melakukan pembayaran, pastikan detail pesanan sudah benar. Cek kembali jumlah barang, varian warna, ukuran, harga, alamat gudang, dan estimasi pengiriman lokal China. Langkah kecil ini bisa mengurangi risiko salah order.
5. Kirim Barang ke Gudang China
Setelah pembayaran selesai, supplier akan mengirim barang ke alamat gudang di China. Gudang ini biasanya digunakan oleh forwarder untuk menerima, mengumpulkan, dan menyiapkan barang sebelum dikirim ke Indonesia.
Pada tahap ini, barang dari satu atau beberapa supplier bisa dikonsolidasikan dalam satu pengiriman. Konsolidasi membantu membuat proses pengiriman lebih efisien, terutama saat Anda membeli dari beberapa toko berbeda.
Selain itu, gudang juga dapat membantu pengecekan dasar, seperti memastikan barang sudah tiba, mencocokkan jumlah paket, dan menyiapkan barang untuk proses berikutnya. Untuk kebutuhan tertentu, barang juga bisa direpacking agar kemasannya lebih aman selama perjalanan.
Tahap ini penting karena barang akan menempuh perjalanan cukup jauh. Packing yang kurang baik bisa meningkatkan risiko kerusakan, terutama untuk barang pecah belah, cairan, elektronik, atau produk yang mudah penyok.
6. Pilih Jalur Pengiriman
Setelah barang siap di gudang China, Anda perlu memilih jalur pengiriman yang paling sesuai. Secara umum, ada dua pilihan utama: pengiriman laut dan pengiriman udara.
Pengiriman laut cocok untuk barang besar, berat, atau pembelian dalam jumlah banyak. Biayanya biasanya lebih hemat, terutama untuk barang dengan volume besar. Namun, waktu pengirimannya lebih lama, sehingga jalur ini lebih cocok untuk stok bisnis yang tidak terlalu mendesak.
Sebaliknya, pengiriman udara cocok untuk barang yang ringan, kecil, bernilai tinggi, atau sedang dibutuhkan dalam waktu cepat. Biayanya memang lebih tinggi, tetapi proses pengiriman biasanya lebih singkat dibanding jalur laut.
Pilih jalur pengiriman berdasarkan jenis barang, berat, volume, kebutuhan waktu, dan margin keuntungan. Jangan hanya mengejar pengiriman cepat, tetapi pastikan biayanya masih masuk akal untuk bisnis Anda.
7. Barang Dikirim ke Indonesia
Setelah jalur pengiriman ditentukan, barang akan diproses untuk dikirim dari China ke Indonesia. Pada tahap ini, forwarder biasanya membantu pengurusan dokumen, proses pengiriman internasional, pembayaran pajak, serta proses bea cukai.
Bagian ini sering terasa rumit bagi pemula karena berhubungan dengan dokumen, regulasi, dan ketentuan impor. Karena itu, banyak pebisnis memilih menggunakan jasa forwarder agar proses teknis bisa dibantu oleh pihak yang lebih berpengalaman.
Setelah barang lolos proses bea cukai, barang akan masuk ke tahap pengiriman lokal. Untuk layanan door to door, barang dapat dikirim langsung ke alamat penerima, baik ke rumah, gudang, toko, maupun lokasi bisnis.
Dengan mengikuti alur ini, proses import dari China menjadi lebih terarah. Anda tidak hanya membeli barang murah, tetapi juga memahami cara menghitung biaya, mengatur pengiriman, dan meminimalkan risiko sejak awal.
Import Mandiri atau Pakai Jasa Forwarder?
Saat ingin mulai import dari China, salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah: lebih baik urus sendiri atau pakai jasa forwarder? Jawabannya tergantung kebutuhan, pengalaman, dan jenis barang yang ingin Anda kirim.
Keduanya sama-sama bisa dilakukan. Namun, untuk pemula, perbedaannya cukup terasa. Import mandiri memberi kontrol lebih besar, tetapi prosesnya lebih teknis. Sementara itu, menggunakan forwarder biasanya lebih praktis karena banyak proses pengiriman yang bisa dibantu dari awal sampai barang tiba di Indonesia.
-
Import Mandiri
Import mandiri lebih cocok untuk pelaku usaha yang sudah paham prosedur impor. Anda perlu memahami dokumen, kode barang atau HS Code, pajak, bea masuk, aturan impor, dan proses pemeriksaan di bea cukai.
Selain itu, Anda juga perlu mengatur komunikasi dengan supplier, pembayaran, pengiriman internasional, serta memastikan semua dokumen sesuai dengan ketentuan. Jika sudah berpengalaman, cara ini memang bisa memberi kontrol lebih besar karena Anda mengatur hampir semua proses secara langsung.
Namun, untuk pemula, import mandiri bisa cukup menantang. Salah memilih kategori barang, salah menghitung pajak, atau kurang lengkap menyiapkan dokumen bisa membuat proses pengiriman terhambat. Bahkan, biaya yang awalnya terlihat murah bisa membengkak jika ada kendala di tengah jalan.
-
Import Lewat Forwarder
Berbeda dengan import mandiri, import lewat forwarder terasa lebih sederhana, terutama bagi pemula, reseller, UMKM, atau pemilik toko online yang baru ingin mencoba mendatangkan barang dari China.
Forwarder biasanya membantu mengurus pengiriman barang dari China ke Indonesia. Mulai dari menerima barang di gudang China, menggabungkan barang dari beberapa supplier, mengatur pengiriman, membantu proses pajak dan bea cukai, sampai mengirim barang ke alamat tujuan.
Dengan sistem seperti ini, Anda tidak perlu langsung memahami semua detail teknis import sejak awal. Anda bisa lebih fokus memilih produk, menghitung harga jual, menyiapkan stok, dan mengembangkan penjualan.
Layanan forwarder juga sering dipilih karena lebih praktis untuk pembelian dari platform seperti 1688, Taobao, atau Alibaba. Apalagi jika Anda terkendala bahasa, pembayaran RMB, atau belum memiliki alamat gudang di China.
-
Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula?
Jika Anda sudah terbiasa mengurus dokumen impor dan memahami regulasinya, import mandiri bisa menjadi pilihan yang menarik. Namun, jika baru mulai import dari China, menggunakan forwarder biasanya jauh lebih aman dan praktis.
Forwarder dapat membantu banyak proses. Mulai dari pengiriman, penggabungan barang, pajak, bea cukai, hingga pengantaran langsung ke alamat Anda. Anda tetap bisa belajar alurnya, tetapi tidak harus menangani semuanya sendirian sejak awal.
Bagi pemula, reseller, dan UMKM, forwarder bisa menjadi pilihan yang lebih realistis untuk memulai. Setelah bisnis berkembang dan volume barang semakin besar, barulah Anda bisa mempertimbangkan apakah ingin tetap menggunakan forwarder atau mulai mengurus sebagian proses import secara mandiri.
Berapa Modal Awal untuk Import dari China?
Banyak orang mengira import dari China harus dimulai dengan modal besar. Padahal, untuk pemula, Anda tidak harus langsung membeli barang dalam jumlah banyak. Anda bisa mulai dari produk kecil, ringan, dan mudah dijual terlebih dahulu.
Yang penting, jangan hanya menghitung modal dari harga barang di supplier. Dalam import, modal sebenarnya dihitung dari total biaya sampai barang tiba di Indonesia. Istilahnya sering disebut landed cost. Jadi, harga barang murah belum tentu menguntungkan jika biaya kirim, pajak, dan biaya lainnya terlalu besar.
Agar lebih aman, mulai dari order kecil dulu. Setelah produk terbukti laku dan margin masih sehat, barulah Anda bisa menambah jumlah pembelian.
Komponen Modal yang Perlu Dihitung
Sebelum membeli barang dari supplier China, ada beberapa biaya yang perlu Anda masukkan ke dalam perhitungan, yaitu:
- harga barang dari supplier;
- ongkir lokal China dari supplier ke gudang;
- biaya kirim internasional dari China ke Indonesia;
- pajak dan bea masuk;
- biaya handling;
- biaya jasa forwarder;
- biaya kirim lokal ke alamat tujuan.
Semua biaya tersebut akan menentukan modal akhir barang. Dari sini, Anda bisa menghitung harga jual yang ideal, margin keuntungan, dan apakah produk tersebut masih layak untuk dijual.
Contoh Simulasi Modal
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana perhitungan modal import dari China:
- Harga barang dari supplier: Rp2.000.000
- Ongkir, pajak, dan handling: Rp1.500.000
- Total modal sampai Indonesia: Rp3.500.000
- Target penjualan: Rp5.500.000
- Potensi margin kotor: Rp2.000.000
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa modal akhir bukan hanya harga barang. Ada biaya lain yang ikut membentuk total modal. Karena itu, sebelum membeli produk, sebaiknya minta estimasi biaya secara lengkap agar Anda bisa menghitung potensi keuntungan dengan lebih realistis.
Metode Pengiriman Barang dari China
Setelah produk siap dikirim, tahap berikutnya adalah memilih metode transportasi yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Pengiriman Laut
Pengiriman laut merupakan metode paling umum karena biaya per unit lebih ekonomis. Ada dua jenis utama yang biasanya digunakan:
- LCL (Less than Container Load)
LCL Container digunakan ketika volume barang tidak cukup untuk memenuhi satu kontainer penuh. - FCL (Full Container Load)
Cocok untuk pengiriman dalam jumlah besar karena satu kontainer digunakan oleh satu pemilik barang.
Pengiriman Udara
Pengiriman udara memiliki waktu transit yang jauh lebih cepat dibandingkan jalur laut. Namun biaya transportasi biasanya lebih tinggi sehingga metode ini sering dipilih untuk barang bernilai tinggi atau kebutuhan mendesak.
Baca Juga : Perbedaan FCL dan LCL: Mana yang Lebih Menguntungkan untuk Import Barang?
Estimasi Biaya Import dari China
Salah satu hal yang paling sering ditanyakan oleh orang yang baru ingin mulai import barang dari China adalah soal biaya.
Sebenarnya, biaya import tidak bisa disamaratakan. Nominalnya bisa berbeda tergantung jenis barang, ukuran atau volume barang, berat pengiriman, metode kirim yang dipilih, hingga kota tujuan di Indonesia.
Sebagai gambaran awal, Anda bisa memperkirakannya dari dua metode pengiriman yang paling umum digunakan, yaitu pengiriman laut dan pengiriman udara.
1. Pengiriman via Laut
Pengiriman via laut biasanya menjadi pilihan untuk barang yang ukurannya besar atau jumlahnya cukup banyak. Metode ini lebih sering digunakan oleh pebisnis yang ingin menekan biaya pengiriman, terutama jika barang tidak terlalu mendesak untuk sampai.
Untuk pengiriman laut dengan sistem LCL atau kubikasi, estimasi biayanya umumnya mulai dari sekitar Rp4.000.000 hingga Rp6.000.000 per CBM. Waktu pengiriman biasanya berkisar 25 sampai 35 hari hingga barang tiba di Indonesia.
Kelebihan utama pengiriman laut adalah biayanya lebih hemat, sehingga cocok untuk bisnis skala menengah hingga besar.
Namun, karena prosesnya membutuhkan waktu lebih lama, metode ini kurang cocok jika Anda membutuhkan barang dalam waktu cepat.
2. Pengiriman via Udara
Berbeda dengan pengiriman laut, pengiriman via udara lebih cocok untuk barang yang ringan, berukuran kecil, atau produk yang perlu segera dijual. Metode ini sering dipilih untuk barang yang sedang tren, produk bernilai tinggi, atau stok yang harus cepat tersedia.
Estimasi biaya pengiriman udara biasanya mulai dari sekitar Rp300.000 hingga Rp450.000 per kg. Untuk estimasi waktu, barang umumnya bisa sampai ke Indonesia dalam waktu sekitar 5 sampai 8 hari.
Keunggulan pengiriman udara ada pada kecepatannya. Selain itu, waktu barang di perjalanan juga lebih singkat. Namun, dari sisi biaya, pengiriman udara tentu lebih mahal dibandingkan jalur laut, sehingga perlu dihitung dengan cermat agar margin bisnis tetap aman.
Contoh Simulasi Sederhana
- Contohnya, Anda import aksesoris seberat 10 kg lewat udara. Ongkirnya sekitar Rp3.000.000. Harga barang dari supplier Rp2.000.000. Jadi, total modal yang perlu disiapkan sekitar Rp5.000.000. Jika barang tersebut berhasil dijual dengan total penjualan Rp8.000.000, maka potensi keuntungan kotornya sekitar Rp3.000.000. Tentu angka ini masih bisa berubah tergantung harga jual, biaya operasional, dan strategi penjualan yang digunakan.
- Contoh lainnya, jika Anda import barang dengan volume besar sekitar 1 CBM menggunakan pengiriman laut, estimasi ongkirnya bisa sekitar Rp5.000.000. Jika harga barang dari supplier sebesar Rp4.000.000, maka total modal awal kurang lebih Rp9.000.000.Apabila barang tersebut dijual kembali dengan total penjualan Rp15.000.000, maka potensi profit kotornya sekitar Rp6.000.000. Dari simulasi ini terlihat bahwa pengiriman laut bisa lebih efisien untuk barang besar, selama Anda tidak membutuhkan barang dalam waktu cepat.
Hal yang Perlu Diperhatikan
Jika menggunakan jasa forwarder, biaya pengiriman biasanya sudah mencakup beberapa komponen seperti ongkir dari China ke Indonesia, pajak dan bea masuk, serta biaya handling. Meski begitu, setiap barang bisa memiliki perhitungan yang berbeda.
Barang elektronik, misalnya, bisa memiliki ketentuan dan biaya yang berbeda dibandingkan barang non-elektronik. Selain itu, tujuan pengiriman di Indonesia, perubahan kurs mata uang, volume barang, dan berat aktual juga dapat memengaruhi total biaya import.
Karena itu, sebelum melakukan pembelian, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu detail barang yang ingin dikirim. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan estimasi biaya yang lebih mendekati kebutuhan sebenarnya.
Tips Agar Biaya Import Lebih Hemat
Agar biaya import lebih efisien, Anda bisa menggabungkan beberapa barang dalam satu pengiriman atau menggunakan sistem konsolidasi. Cara ini cukup membantu, terutama jika Anda membeli dari beberapa supplier sekaligus.
Untuk barang berukuran besar atau stok dalam jumlah banyak, pengiriman laut biasanya lebih hemat. Sementara itu, pengiriman udara sebaiknya digunakan untuk produk yang ringan, bernilai tinggi, atau cepat laku di pasaran.
Yang paling penting, selalu hitung margin sebelum membeli barang. Jangan hanya melihat harga produk yang murah dari supplier, tetapi perhitungkan juga ongkir, pajak, handling, dan biaya lain yang mungkin muncul. Dengan perhitungan yang matang, proses import bisa menjadi lebih aman, efisien, dan menguntungkan untuk bisnis Anda.
Pahami 6 Syarat dan Ketentuan Pengiriman Barang
Bagi Anda yang baru mulai melakukan impor dari China, penting untuk memahami bahwa setiap perusahaan forwarder atau cargo memiliki syarat dan ketentuan pengiriman (Terms & Conditions) yang berbeda-beda.
Berikut adalah poin-poin penting yang perlu Anda ketahui dan pahami sebelum mengirimkan barang dari gudang China ke Indonesia melalui layanan seperti Blastindo Cargo:
1. Kategori Barang dan Tarif Pengiriman
Blastindo Cargo membedakan tarif pengiriman berdasarkan jenis barang yang dikirim. Misalnya:
- Barang umum dan tas dikenakan tarif Rp 4.800.000 per CBM.
- Barang elektronik dan mainan (IARTAS) Rp 5.400.000 per CBM.
- Barang berat dan HOT ITEM antara Rp 6.200.000 – Rp 6.500.000 per CBM.
- Garment dan tekstil memiliki tarif tertinggi, yakni Rp 10.000.000 per CBM.
Sedangkan untuk pengiriman udara, tarifnya dihitung per kilogram dengan kisaran Rp 230.000/kg, dan estimasi waktu tiba 7–12 hari kerja.
2. Dokumen Wajib: Invoice dan Packing List
Setiap pengiriman wajib disertai dokumen invoice dan packing list. Tanpa dua dokumen ini, barang tidak akan diproses atau bisa tertahan di gudang.
Pastikan juga Anda mengonfirmasi nama penerima, jumlah barang, dan nilai faktur sebelum barang dikirim dari China.
3. Barang Kecil dan Biaya Tambahan
Jika volume barang kurang dari 0,5 CBM, barang tidak dikirim langsung ke alamat penerima. Barang perlu diambil di gudang Jakarta. Selain itu, ada biaya tambahan Rp100.000 untuk handling.
Selain itu, Blastindo menegaskan bahwa harga pengiriman sudah mencakup bea cukai, pajak, dan dokumen untuk pengiriman ke alamat Jakarta (minimal 0,5 CBM). Namun, pengiriman ke luar Jakarta akan diteruskan dengan jasa ekspedisi lokal atas biaya penerima.
4. Pengemasan dan Keamanan Barang
Salah satu hal penting yang sering diabaikan pemula adalah pengemasan barang impor.
Blastindo menetapkan standar wajib:
- Semua barang harus dibungkus karung goni.
- Barang pecah belah atau cair harus dikemas dalam peti kayu tertutup.
- Barang tanpa kemasan sesuai standar tetap diterima, namun seluruh risiko kerusakan menjadi tanggung jawab pengirim.
Selain itu, pelanggan disarankan mengambil foto atau video kondisi barang di gudang China (H-2) sebelum pengiriman sebagai bukti.
5. Asuransi dan Perlindungan Barang
Blastindo menyediakan perlindungan standar untuk setiap pengiriman:
- Rp 20 juta per CBM (laut)
- Rp 5 juta per kg (udara)
Bagi pengiriman dengan nilai lebih tinggi, pelanggan dapat membeli asuransi tambahan sebesar 5% dari total nilai barang.
Namun, perlu diingat bahwa asuransi tidak menanggung kerugian akibat huru-hara, bencana alam, kemasan rusak, atau pelanggaran aturan kepabeanan.
6. Prosedur Konfirmasi Barang dan Resi Pengiriman
Setelah barang tiba di gudang China, Anda perlu konfirmasi ke admin Blastindo Cargo. Data yang perlu dikirim meliputi nama penerima, jumlah barang, ukuran, berat, dan nilai invoice.
Resi pengiriman yang diterima pelanggan nantinya akan dianggap bukti sah penerimaan barang di gudang.
*Semua harga di atas dapat berubah sewaktu-waktu sesuai situasi dan kondisi. Untuk informasi terbaru, silakan hubungi tim kami. Jadikan Blast Indo Cargo sebagai mitra terpercaya untuk mengembangkan bisnis impor Anda.
Baca Juga :Â Apa Itu RMB? Mata Uang Resmi China yang Wajib Dikenal
Mau mulai import dari China tapi bingung? Konsultasi Gratis via WhatsApp
Risiko yang Perlu Diperhatikan
Kegiatan perdagangan internasional memiliki beberapa risiko yang perlu diantisipasi sejak awal.
Perbedaan Spesifikasi Produk
Terkadang barang yang diterima tidak sepenuhnya sesuai dengan sampel. Oleh karena itu penting untuk membuat perjanjian tertulis mengenai standar kualitas.
Kerusakan Selama Pengiriman
Barang yang dikirim dalam perjalanan panjang dapat mengalami kerusakan jika tidak dikemas dengan baik. Pastikan supplier menggunakan packing yang sesuai.
Supplier Tidak Terpercaya
Memeriksa latar belakang perusahaan sangat penting sebelum melakukan pembayaran. Gunakan metode transaksi yang memiliki perlindungan pembeli.
Import dari China Proses Aman denga Jasa Forwarder
Memilih partner import itu sangat penting, terutama jika Anda masih pemula.
Kesalahan dalam proses import bisa menyebabkan barang tertahan, biaya membengkak, bahkan kerugian.
Karena itu, Anda butuh jasa import yang berpengalaman, transparan, dan benar-benar membantu dari awal sampai barang sampai.
Kami hadir untuk memberikan solusi import yang mudah, aman, dan tanpa ribet, sehingga Anda bisa fokus ke bisnis tanpa pusing urusan teknis.
Berikut keunggulan yang bisa Anda dapatkan:
- All-in Tanpa Biaya Tersembunyi :
– Kami menggunakan sistem biaya all-in, artinya semua biaya sudah jelas di awal.
– Tidak ada biaya tambahan tiba-tiba di tengah proses. - Dibantu Pembelian Barang dari China
– Tidak perlu bingung komunikasi dengan supplier atau takut salah beli.
– Tim kami siap membantu proses pembelian dari awal sampai deal. - Bisa Bantu Transfer RMB
– Kesulitan melakukan pembayaran ke China?
– Kami menyediakan layanan transfer RMB yang aman dan mudah. - Gudang Sendiri di China
– Kami memiliki gudang di kota pusat perdagangan seperti Guangzhou & Yiwu.
– Barang Anda bisa dikumpulkan, dicek, dan dikirim lebih efisien. - Layanan Door to Door
– Barang akan kami kirim langsung sampai ke alamat Anda di Indonesia.
– Tanpa perlu repot urus bea cukai atau pengambilan barang di pelabuhan.
Kesimpulan
Dengan layanan yang lengkap dan sistem yang sudah terintegrasi, Anda bisa mulai import dengan lebih aman, mudah, dan minim risiko.
FAQ Terkait Jasa Import dari China
Berapa lama waktu pengiriman barang dari China ke Indonesia?
Pengiriman melalui jalur udara biasanya memakan waktu antara 12–15 hari kerja, sedangkan pengiriman melalui jalur laut membutuhkan waktu sekitar 20–30 hari kerja, tergantung lokasi dan jenis layanan yang dipilih.
Apakah perlu izin khusus untuk import barang dari China?
Ya, tergantung jenis barang yang diimpor. Barang tertentu seperti makanan, kosmetik, atau alat kesehatan membutuhkan perizinan tambahan. Namun, jika Anda menggunakan jasa importir seperti Blast Indo Cargo, semua proses perizinan dapat dibantu hingga selesai.
Apa perbedaan antara pengiriman LCL udara dan LCL laut?
LCL udara lebih cepat dan cocok untuk barang bernilai tinggi dalam volume kecil, sedangkan LCL laut lebih ekonomis dan ideal untuk pengiriman dalam jumlah besar. Blast Indo Cargo menyediakan keduanya sesuai kebutuhan bisnis Anda.
Bagaimana cara menghitung biaya impor dari China?
Biaya impor terdiri dari harga barang, ongkos kirim, bea masuk, PPN impor, dan biaya handling di pelabuhan atau gudang. Anda dapat meminta estimasi biaya lengkap kepada tim Blast Indo Cargo sebelum proses pengiriman dilakukan.
Apakah Blast Indo Cargo menyediakan layanan door-to-door?
Ya, kami menyediakan layanan door-to-door yang mencakup proses pembelian, pengurusan izin, pengiriman, hingga barang tiba di lokasi Anda di Indonesia. Anda tidak perlu repot mengurus dokumen atau bea cukai secara mandiri.
Jasa Import dari China Murah & Aman ke Indonesia
Import barang dari China tanpa ribet. Kami bantu dari pembelian, pembayaran, hingga barang sampai ke tangan Anda.
- Door to door all-in (sudah termasuk pajak)
- Bisa beli dari 1688 / Taobao / Alibaba
- Tidak perlu izin import
- Bisa mulai dari kecil
Konsultasi Gratis via WhatsApp




